Apa yang Bisa Dibenahi Manchester United Usai Dipecundangi Palace?

Apa yang Bisa Dibenahi Manchester United Usai Dipecundangi Palace?

PASARLIGA – Setelah awal manis nan menjanjikan di Premier League berkat kemenangan telak atas Chelsea dan performa yang gemilang saat tandang ke markas Wolverhampton, fans Manchester United dibuat kembali menginjak bumi. Kekalahan memalukan atas Crystal Palace di Old Trafford membuat banyak fans MU mulai terbayang-bayang capaian musim lalu.

Tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer tersebut kalah karena gol Patrick Van Aanholt di menit akhir pertandingan. Namun masalah sebenarnya jauh lebih dalam daripada kesalahan dari David De Gea yang membuat Setan Merah malu di kandang sendiri. Pada laga ini, Manchester United kalah dengan skor 1-2.

Jordan Ayew membuat tim tamu Crystal Palace unggul lebih dahulu pada menit ke-32. Manchester United menyamakan kedudukan satu menit sebelum waktu normal berakhir lewat Daniel James. Namun satu poin di depan mata itu sirna setelah tembakan Van Aanholt gagal diantisipasi dengan sempurna oleh De Gea di masa injury time.

Fakta bahwa Manchester United memiliki penguasaan bola mencapai 71% (via BBC), dan hanya membuat tiga tembakan tepat sasaran sudah mengatakan tentang apa yang salah dari Manchester United.

Kurangnya Kreativitas

Kekalahan pertama dari Crystal Palace dari 21 pertemuan Premier League ini menunjukkan bahwa Manchester United kurang kreativitas dalam permainan. Lemahnya Setan Merah di sisi tersebut berarti peluang yang didapatkan oleh Marcus Rashford dan juga Anthony Martial di depan gawang menyedihkan.

Jesse Lingard sejauh ini belum mampu menunjukkan bahwa ia bisa menjadi solusi lemahnya kreativitas Manchester United. Terlepas dari performa saat membantai Chelsea, performa pemain 26 tahun tersebut di dua pertandingan terakhir kurang mumpuni.

Memang benar Lingard diberikan peran untuk melakukan pressing setiap lawan menguasai bola di daerah sendiri. Namun Manchester United sejatinya lebih butuh pemain yang mampu membongkar pertahanan lewat visi permainannya. Mampu membuka rapatnya pertahanan lewat pergerakan dan umpan-umpan brilian. Bukan hanya sekadar mengejar ke mana pun bola bergerak.

Lingard memang berguna ketika lawan bermain lebih terbuka seperti yang dilakukan Chelsea di pekan pertama. Namun ketika menghadapi tim seperti Crystal Palace, di kandang sendiri, harusnya Solskjaer bisa membaca dari awal bahwa lawan mereka akan bermain lebih dalam dan bermain rapat sejak dari lini tengah.

Ini bukan sebuah saran bahwa Lingard harus dicadangkan di pekan selanjutnya. Namun mengingat Lingard sangat kurang dalam kontribusinya untuk urusan gol, di mana ia tak mencetak gol selama delapan bulan ini, Solskjaer harusnya sudah tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Solskjaer Salah Pilih Starting XI?

Memainkan Lingard bukanlah pilihan yang salah. Namun bila melihat bagaimana Lingard lebih efektif ketika bermain melawan tim yang bermain terbuka, karena daya jelajahnya dan kecepatannya, Solskjaer terlihat seperti tidak bisa mengantisipasi permainan lawan lebih awal.

Lingard bukanlah akar dari masalah Manchester United pada laga ini. Masalah sebenarnya adalah bagaimana Solskjaer memilih starting XI yang lebih cocok bermain dalam skema serangan balik melawan tim yang sudah diprediksi dari awal akan bermain bertahan dan rapat di Old Trafford.

Dominasi total yang ditunjukkan Manchester United pada pertandingan ini menunjukkan bahwa Solskjaer harusnya memainkan pemain yang memiliki visi dan imajinasi penyerangan yang lebih baik.

Memang Solskjaer bisa beralasan bahwa ia tak memiliki gelandang serang tambahan di musim panas ini, namun pelatih asal Norwegia ini masih memiliki opsi.

Paul Pogba bisa menjadi salah satu pilihan Solskjaer untuk menjadi solusi masalah kreativitas. Namun pada pertandingan melawan Palace dan juga di dua pertandingan sebelumnya, gelandang asal Prancis tersebut lebih banyak bermain di belakang lini serang. Tugasnya jelas, menjadi penyeimbang lini bersama Scott McTominay.

Bila Pogba diberikan peran jauh lebih ke depan, maka Lingard bisa bermain melebar bila memang Solskjaer ingin memiliki satu pemain yang bisa mengejar bola hingga pertahanan lawan. Sementara sebagai partner McTominay masih ada Nemanja Matic dan juga Andreas Pereira yang bermain bagus saat melawan Chelsea di pekan pertama.

Opsi lain adalah memainkan Juan Mata. Gelandang asal Spanyol tersebut bisa dikatakan adalah pemain paling kreatif di skuad Manchester United saat ini. Kemampuan Mata ketika diberikan peran sebagai playmaker di depan penyerang sudah terbukti di masa lalu.

Banyak asumsi bahwa tidak masuknya Juan Mata dalam skema Solskjaer saat ini adalah karena masalah kecepatan. Mantan playmaker Chelsea ini tidak secepat Daniel James, Anthony Martial, Lingard atau Marcus Rashford yang saat ini merupakan pilihan Solskjaer. Namun Mata memiliki lebih banyak penawaran yang bisa dilakukan dari sisi kreativitas.

Maksimalkan Penalti

Manchester United menjadi tim yang bersahabat dengan titik penalti. Namun persabahatan itu tak selalu berjalan mulus, utamanya di pekan pertama Premier League musim ini.

Dari tiga pertandingan yang sudah dijalani, Manchester United adalah satu-satunya tim yang mendapatkan hadiah penalti di tiap pertandingan itu. Namun hanya satu yang mampu dimaksimalkan menjadi gol.

Melawan Chelsea, Wolverhampton, dan terakhir Crystal Palace, pasukan Ole Gunnar Solskjaer selalu mendapatkan hadiah penalti. Sayang, hanya ketika melawan Chelsea saja hadiah itu mampu dimaksimalkan. Paul Pogba gagal melawan Wolves, dan eksekusi Rashford gagal ketika melawan Palace.

Ini tentu menjadi perhatian dari Solskjaer. Dan usai pertandingan, sang pelatih sudah sadar bahwa timnya bisa jauh lebih baik.

“Kami harus belajar dan harus belajar secara cepat. Dari dua laga terakhir kami harusnya bisa mendapatkan enam poin bila anda melihat pertandingan itu sebagai orang yang netral,” ujarnya seperti dilansir BBC.

“Kejadian seperti itu bisa terjadi di setiap pertandingan, dan kami mengalami itu. Terkadang hal-hal seperti ini bisa terjadi. Saya juga beberapa kali gagal mencetak penalti saat masih bermain. Saya rasa jika kami mencetak penalti itu hari ini, maka segalanya akan sangat berbeda,” sambungnya.

“Jika kami bisa menciptakan posisi seperti tadi, maka kami akan mendapatkan lebih banyak penalti dan kami akan mencetaknya. Kami percaya bahwa mereka [Rashford dan Pogba] akan mencetak penalti lagi.” tandasnya.

Bagaimana Manchester United Selanjutnya?

Ini memang bukan waktu yang tepat untuk bereaksi berlebihan bagi fans Manchester United menyikapi kekalahan ini karena musim masih sangat panjang. Namun jelas bahwa Solskjaer masih perlu waktu untuk menemukan komposisi dan skema yang pas untuk timnya.

Di pertandingan selanjutnya Manchester United memiliki kesempatan untuk bangkit. Paul Pogba dkk akan tandang ke St Mary’s, markas Southampton, di lanjutan Premier League matchday 4.

Melihat bagaimana Southampton di pertandingan kandang terakhir mereka, Manchester United bisa meniru apa yang dilakukan Liverpool. Di pekan kedua Liverpool sukses mencuri kemenangan atas Soton di St Mary’s lewat permainan yang efektif dan mendominasi.

Southampton bukan Crystal Palace, memang. Tapi melihat bagaimana kecenderungan tim asuhan Ralph Hasenhuttl bermain di kandang sendiri ketika kedatangan tim besar, kekalahan dari Palace bisa jadi pelajaran Manchester United.

The Saints kerap bermain bertahan dalam formasi 3-5-2 untuk membatasi pergerakan lawan di sepertiga akhir lapangan. Bermain di kandang sendiri tak membuat Soton malu bermain bertahan, dan itu sudah terbukti ketika melawan Liverpool.

Dari segi kualitas skuad, Manchester United bisa dikatakan jauh di atas skuad yang dimiliki Southampton. Namun bila Solskjaer kembali salah membaca permainan dari awal seperti saat melawan Palace, ada kemungkinan Setan Merah bakal memiliki malam yang sama seperti di Old Trafford.

Menarik untuk kita tunggu bagaimana perubahan yang dilakukan oleh Manchester United akhir pekan ini melawan Southampton.

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *